|
SEJARAH
SINGKAT MUSEUM
LISTRIK DAN
ENERGI BARU
Gagasan pembangunan
Museum Energi di
cetuskan oleh
Menteri Pertambangan
dan Energi (pada
waktu itu Bapak Ir. Drs. Ginanjar Kartasasmita),
pada saat ulang tahun OPEC (Organization Petroleum Exporting Countries) ke 30 pada
bulan Oktober
1990.
Proses pematangan pembangunan Museum Energi dibahas
melalui rapat
kerja yang di
hadiri DITJEN MIGAS ,
DITJEN LEB, PLN, ANEKA TAMBANG, TIMAH, TAMBANG BATUBARA dan
KONSULTAN.
Selanjutnya setelah mendapatkan per-setujuan Ketua
Yayasan Harapan
Kita dan di
sepakati rancangan
akhir Pem-bangunan terdiri dari rancangan tapak, arsitektur, pola
peragaan, pola anggaran dan sumber dananya, diterbitkanlah Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan
Energi No. :1722.K/ 702/MPE/1992 tanggal 17
Desember 1992 tentang Panitia
Proyek Pembangunan Museum Listrik
dan Energi Baru.
1.2. FILOSOFI
BANGUNAN
& PERAGAAN
Filosofi bangunan
mengacu pada inti
atom, dimana struktur
atom yang
terdiri dari 1 (satu)
proton di kelilingi 3
(tiga) elektron.
Pola bangunan
ini bulat
seperti kapsul
yang terdiri dari bangunan
utama yang lebih
besar (proton) dinamakan Anjungan Listrik,
dan 3 (tiga) bangunan
yang lebih kecil
(3 elektron) dinamakan Anjungan Energi Baru, Anjungan Energi
Fosil dan Anjungan Energi
Konvensional.
1.3. KARAKTERISTIK
BANGUNAN
DAN
PROSES KONSTRUKSI
Peletakan batu pertama Proyek
Pembangunan Museum
Listrik dan
Energi Baru oleh
Menteri Pertambangan
dan Energi (waktu itu
Bapak Ir. Drs.
Ginanjar Kartasasmita)
pada tanggal
20 Februari 1993.
Pada tanggal 20 Nopember 1993
dimulai pelaksanaan
Pembangunan Fisik
tahap I
yang dibangun adalah Anjungan Penerima,
Anjungan Listrik, Anjungan
Energi Baru.
Karakteristik bangunan
adalah “Hemat
Energi” karena
sebagian penerangan disiang hari
menggunakan energi
matahari.
Atap bangunan dari
kerangka space frame
yang dilapisi bangunan GRC
(Glassfibre
Reinforced Cement) berbentuk
kubah. Penggunaan
Polycarbonate sheet
dan plashing
yang membelah struktur
dome menjadi dua
bagian sama
besar sehingga
mampu meneruskan
sinar matahari
ke dalam gedung.
Tahap I setelah
selesai diserah
terimakan dari Menteri
Pertambangan
dan Energi (waktu
itu Bapak I.B.
Sudjana) kepada
Ketua Yayasan Harapan
Kita (Ibu Tien
Soeharto) tanggal
19 April 1995.
Peresmian tahap
I (Museum Listrik
dan Energi Baru)
oleh Bapak Presiden
Soeharto tanggal
20 April 1995.
Dengan telah
diresmikannya Museum
Listrik dan
Energi Baru oleh Bapak Presiden
Republik Indonesia maka
Pengelolaan selanjutnya
diserahkan ke Yayasan Harapan
Kita.
Yayasan Harapan
Kita mengharapkan agar Menteri
Pertambangan dan Energi menunjuk BUMN yang berada di bawahnya untuk mengelola
Museum, dan akhirnya
PT. PLN (Persero) mendapat tugas dari Menteri
Per-tambangan dan
Energi untuk mengelola Museum
Listrik dan
Energi Baru.
Diharapkan dimasa mendatang
pembangunan Tahap II
yang terdiri
dari Anjungan
Energi Konvensional,
Anjungan Energi Fosil dapat diwujudkan,
sehingga keseluruhan
bangunan Museum Listrik
dan Energi Baru
menjadi satu kesatuan
yang utuh dan
terpadu.
|